Fondasi Industri Perfilman Indonesia Adalah Film Independen

Fondasi Industri Perfilman Indonesia Adalah Film Independen

www.naruto-movie.comFondasi Industri Perfilman Indonesia Adalah Film Independen. Istilah film independen sangat populer di Indonesia reformasi, ketika rezim Orde Baru dipindahkan dari pemerintah ke pemerintah pada tahun 1998. Pasca pergantian kekuasaan ini, kebijakan pemerintah di berbagai bidang mengalami masa transisi, termasuk kebijakan terkait media, termasuk produksi dan distribusi film Indonesia.

Film Independen di Indonesia

Masa transisi ini melemahkan kontrol pemerintah atas produksi film. Pada saat yang sama, setelah lebih dari satu dekade gejolak politik di penghujung Orde Baru, kesadaran publik terhadap kebijakan pemerintah di industri film melemah. Selain kebijakan yang memfokuskan sensor dan monopoli distribusi film di Indonesia. Keadaan ini juga seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi termasuk kamera digital dan komputerisasi dalam proses pembuatan film yang semakin memudahkan masyarakat Indonesia untuk mengaksesnya.

Istilah film independen populer di kalangan anak muda Indonesia, bukan karena pemahaman masyarakat yang mendalam tentang sejarah perfilman, sejarah perfilman Indonesia, dan sejarah perfilman dunia. Namun di permukaan, ia telah beradaptasi dengan gerakan independen lain beberapa tahun yang lalu. Gerakan independen dimulai pada awal 1990-an di bidang perekaman dan distribusi musik.

Band indie adalah grup musik yang merekam musik dengan biaya sendiri, berkumpul dengan teman dan penggemar, dan menjualnya melalui toko-toko kecil tempat istilah tersebut populer. Selain teknologi yang mewujudkannya, dengan cara ini, mereka tidak lagi mengandalkan studio rekaman besar dengan saluran distribusi besar di Indonesia.

Baca Juga: 5 Film Terbaik Yang Di Perankan Tom Hanks Pada Era 90’an

Berbagai kondisi yang saling terkait di Indonesia membuat istilah “film independen” sangat mudah diucapkan, namun tidak ada definisi yang tegas. Minimnya referensi dan minimnya kesadaran akan perbedaan format dan struktur storytelling menyebabkan film ini disematkan oleh perusahaan rekaman independen Indonesia, bahkan hampir semua film adalah film pendek.

Indonesia tidak pernah memiliki sejarah perlawanan studio film seperti itu, karena belum ada rekaman yang cukup formal dan sistem produksi dan distribusi yang cukup besar. Semua kebijakan ekosistem perfilman Indonesia sepanjang sejarahnya hanyalah aksi dan reaksi terhadap situasi sementara, dan merupakan tanggapan atas apa yang terjadi saat itu. Semua ini kembali, karena tidak pernah ada standar yang jelas untuk memahami atau memiliki kepentingan bersama yang dapat diterima oleh semua pihak dalam produksi. Regulasi produktif yang telah didambakan dan diimpikan tidak pernah berhasil mencapai produksi dan distribusi dalam negeri, apalagi jalur luar negeri.

Yang terjadi adalah gerakan separatis, dan tidak saling berhubungan antara pemerintah dan penggiat produksi. Juga di kalangan kelompok produksi Indonesia. Selain itu, terkait standar penerbitan internasional, hal yang sama juga terjadi pada kelompok produksi nasional.

Jika memang ingin mengedepankan semangat kemandirian, mungkin ini kurang strategis bagi perkembangan industri perfilman nasional. Atau pertanyaan lain, seberapa pentingkah istilah yang terus digunakan untuk mendeskripsikan genre produksi film Indonesia?

Industri Perfilman Indonesia

Hanung Bramantyo (Hanung Bramantyo) adalah sutradara film nasional ternama dengan ribuan penonton, seperti “Menikah” (2007), Ayat Ayat Cinta (2008) dan Rudy Habibie (2016). Bertentangan dengan aspek komersial film nasional, ternyata Hanung berasal dari perusahaan film independen.

Hanung disutradarai oleh film pendek “Tlutur” (1998) yang diambilnya semasa studinya di Akademi Seni Jakarta. “Tlutur” memenangkan juara pertama pada Festival Film Alternatif Dewan Kesenian Jakarta 1998.

Sementara itu, karir Ifa Isfansyah berkembang pesat melalui Garuda di Dadaku (2009), meraih 1,37 juta penonton. Sutradara berusia 36 tahun itu meninggalkan film Air Mata Surga (2002) yang menjadi film perdana di Festival Film Video Independen Indonesia pada 2002.

Riri Riza, sutradara Laskar Pelangi (2008) dan Ada Apa dengan Cinta 2 (2016), juga keluar dari bioskop independen, namun sepertinya sudah banyak yang mengetahuinya. Ia salah satu pionir kebangkitan perfilman nasional melalui Kuldesak (1999) di penghujung 1990-an. Kuldesak adalah film independen rasa terintegrasi yang ia kerjakan dengan sutradara lain seperti Rizal Mantovani, Mira Lesmana dan Nan Achnas.

Nama-nama lain seperti Riri, Ifa dan Hanung serta Garin Nugroho, Rudi Soedjarwo, Aria Kusumadewa dan Nana Mulyana mulai tampil sebagai sineas muda independen pada akhir 1990-an dan awal 2000-an.

Kemunculan mereka merupakan respon terhadap film-film Indonesia yang tidak memiliki film pada tahun 1990-an, dan baru pada rilisnya Kuldesak telur tersebut akhirnya pecah.

Saat itu, standar Komite Film dan Televisi menetapkan hanya empat kali asisten sutradara bisa menjadi sutradara. Pada saat yang sama, tidak satupun dari empat sutradara Kuldesak yang menjadi asisten sutradara.

“Kalau kita patuhi standar, berapa lama kita tunggu?” Mira Lesmana, dikutip Gatra (15/3/2001). Dia menambahkan: “Pada saat itu, tidak ada film Indonesia yang dibuat.”

Saat itu, harus diakui film nasional ini benar-benar jatuh. Produser film besar (main label), seperti film Parkit, film Persari, PPFN, dll sudah kewalahan membuat film nasional. Biaya tinggi dan keuntungan kecil telah membuat film-film Hollywood dan stasiun TV swasta diserang sengit.

Menurut catatan, dalam dekade ini, hanya 332 film yang diproduksi secara komersial di Tanah Air, dibandingkan dengan 723 film di tahun 1980-an. Pada tahun 1998 dan 1999, penurunan tersebut mencapai titik terendah. Dalam dua tahun itu, hanya delapan film lokal yang masuk teater. Krisis ekonomi dan gejolak politik menjadi kendala.

Siapa sangka, faktor ini sekaligus menjadi pupuk bagi bibit unggul sineas muda lokal melalui film-film independen. bagaimana bisa?

Sebelum membahas hal ini, mari kita bahas dulu pengertian film independen (sering disebut film independen).

Definisi “film independen” bervariasi, tetapi fokusnya ada pada film yang diproduksi di luar label utama, bukan untuk tujuan komersial.

Karenanya, film independen seringkali tidak terkendala oleh sensor dan permintaan pasar. Hal ini memungkinkan pembuat film untuk menjelajahi batasan tertentu yang tidak dapat dicapai oleh pembuat film komersial. Alhasil, yang muncul adalah produk film yang jujur, bahkan terkadang berani mengkhianati.

Sulit untuk menampilkan karya-karya ini dalam sistem orde baru yang diawasi. “Orde Baru” yang represif jelas menghambat kreativitas sineas untuk membuat film independen. Boleh saja membuat film, orang tidak berani mengungkapkan pendapatnya dengan bebas di hati massa.

Ketika Presiden Soeharto lengser pada Mei 1998, jatuhnya rezim Orde Baru menjadi momentum, tidak hanya mengubah peta demokrasi negara, tetapi juga menghidupkan kembali film-film lokal dari keterpurukan. Indikatornya adalah industri film independen.

Sebelum 1998, sebenarnya ada perkumpulan pembuat film independen, tapi terbatas pada kegiatan kampus. Data Cinema Poetica menunjukkan, sebelum 1998, hanya empat komunitas film yang tercatat.

Empat diantaranya berasal dari kampus, yaitu Persatuan Film Mahasiswa ITB (berdiri tahun 1960), Klub Komunikasi UGM (1985), Kine Klub FISIP UNS (1988) dan Jamaah Sinema Mahasiswa DI Yogyakarta (1993).

Setelah 1998, komunitas produksi film independen berkembang dan berkembang di luar lingkungan kampus. Di antara empat komunitas kampus sebelum 1998, kini terdapat ratusan komunitas, 77 di antaranya mengikuti Temu Komunitas Film Indonesia di Purwokerto, Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Cinema Poetica (25-27 Maret 2016).

Tampaknya, selain desentralisasi orde baru, pertumbuhan film independen juga terkait dengan kemajuan teknologi. Hingga akhir abad ke-20, untuk membuat film yang tidak hanya dapat menggunakan kamera apapun, kamera khusus harus digunakan untuk merekam gambar bergerak, yang harganya sangat mahal.

Hanya sebuah perusahaan produksi dengan modal besar yang dapat memproduksi sebuah film, dan tentunya juga dapat memproduksi sebuah film komersial. Sekadar merekam, sineas sudah punya dua biaya, yakni kamera dan film seluloid.

Pita seluloid hanya dapat direkam selama beberapa menit, dan kemudian diganti dengan yang lain. Bayangkan berapa banyak gulungan yang dibutuhkan untuk membuat film berdurasi 120 menit. Faktanya, dalam sebuah film, tidak mungkin menggunakan semua adegan dalam produk akhir.

Dalam sepuluh tahun berikutnya, mereka dapat menggunakan kamera DSLR, yang kualitasnya mendekati kamera seluloid.

Tentunya tempat penyimpanan tidak lagi menggunakan film, melainkan kartu memori yang dapat digunakan kembali dengan harga terjangkau. Setelah mentransfer file video ke komputer, kamera dapat menggunakan kartu memori yang sama untuk merekam ulang adegan lainnya.

Nah, bagi pengguna yang ingin mendapatkan video dengan kualitas DSLR dalam ukuran yang relatif kecil, kamera mirrorless juga bisa menjadi alternatif. Bahkan beberapa ponsel dan kamera olahraga dapat digunakan untuk merekam video definisi tinggi hingga resolusi 4K.

Ada bukti di sana, seperti film “Segitiga: Sisi Merah” (Segitiga: Sisi Merah), yang difilmkan oleh selebriti Deddy Corbuzier dengan kamera ponsel.

Baca Juga: Recommended: 22 Serial Drakor Terbaik dengan Peringkat Atas

Meski teknologinya lebih murah dan tersedia melalui banyak metode alternatif, faktor pendanaan masih menjadi masalah besar bagi pembuat film independen. Hal inilah yang membuat komunitas kampus biasanya eksis lebih lama dibandingkan non kampus yang seringkali sporadis.

“Organisasi kampus cenderung mendapatkan dana dari kampus itu sendiri,” kata Adrian Jonathan, pemimpin redaksi bioskop Poetica di Beritagar.id (15/9/2016). Pada saat yang sama, dana komunitas lainnya biasanya berasal dari iuran keanggotaan. Atau, dukungan finansial dari lembaga pemerintah dan swasta.

Namun, menurut Adrian, sebaiknya gunakan dukungan dana (terutama dari pemerintah) secara tepat untuk proyek-proyek yang bermanfaat bagi masyarakat. Adrian mengatakan : “Ini bukanlah meminta uang kepada pemerintah. Kami tidak menganggap pemerintah sebagai mesin ATM.”

Pasalnya, peran komunitas sangat penting untuk dijadikan indikator potensi industri perfilman Indonesia. Dimas Jayasrana, Direktur Operasional Cinema Poetica, menambahkan, misalnya, di Banjarnegara, Jawa Tengah. Dimas berkata: “Ada bioskop baru di sana. Pemiliknya adalah pengusaha lokal.”

Bioskop bersifat independen dan tidak termasuk dalam jaringan arus utama seperti Cineplex, CGV, atau Cinemaxx. Dimas menuturkan, alasannya membuat film adalah dia melihat antusiasme orang-orang industri film di sana.”

Yang di ulas sebelumnya, Riri Riza, Ifa Isfansyah, dan Hanung Bramantyo berasal dari film independen, atau tepatnya film pendek. Konsep kemandirian dan kejujuran kerja yang dianut oleh sineas independen tampaknya sangat erat kaitannya dengan film pendek.

“Bagi saya, film pendek adalah medium paling jujur. Saya bisa melakukan apa yang saya suka di film pendek. Mayar mengajari saya untuk mengungkapkan pikiran dan ekspresi apa pun dari lubuk hati saya, dan tolong tenang, ini adalah ujian! I The Power of this, ”jelas Ifa kepada Cinema Poetica saat memutar enam film pendeknya di Solo Film Festival 2012.

Layaknya film independen, definisi film pendek pun masih kabur. Namun, jika prinsipnya adalah Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS, penyelenggara Academy Awards), film pendek adalah film yang berdurasi kurang dari 40 menit, termasuk semua judulnya. Sementara itu, Festival Film Cannes membutuhkan waktu yang lebih singkat, hingga 15 menit.

Meski tidak perlu memutar film pendek, nyatanya kebanyakan film independen di Indonesia berdurasi kurang dari satu jam. Jika merujuk pada data Cinema Poetica, dari 303 film pendek yang diproduksi industri film dalam setahun terakhir, 220 adalah cerpen. Disusul dengan film dokumenter pendek dengan total 52 judul.

Film pendek mendominasi karena waktu produksinya yang relatif singkat dan permintaan sumber daya yang relatif rendah. Untuk sineas yang masih mahasiswa, produksi bisa disesuaikan dengan jadwal perkuliahan. Bagi pembuat film baru, produksi film pendek juga dapat memberikan pengalaman produksi yang paling sedikit.

Produser film pendek juga bisa menampilkan karyanya melalui berbagai kegiatan pameran. Beberapa festival menghilang, seperti Festival Film Video Independen Indonesia, Festival Film Pendek Tiga Kota, dan Festival Film Pendek Konfiden.

Saat ini banyak festival film pendek. Pertengahan Oktober, Minikino Film Week, sebuah festival film pendek internasional, digelar di Bali. Beberapa festival televisi diprakarsai oleh stasiun televisi, seperti Festival Film Pendek Indonesia (Kompas TV) dan Festival Film Pendek Indonesia (SCTV).

Jaringan bioskop terbesar 21Cineplex juga menyelenggarakan festival film bernama XXI Short Film Festival. Belum lagi perlombaan daerah seperti festival film travel tunggal dan event kampus seperti festival film pendek IKA Brawijaya.

Boleh jadi yang berbeda mungkin pada HelloFest 2016 yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC) di Senayan (25/9/2016). HelloFest bukanlah festival film pendek, melainkan festival konten visual. Namun, acara tahunan yang diprakarsai oleh IdeaFest ini menyelenggarakan kompetisi film pendek.

Tahun ini, mereka berhasil mengumpulkan 501 film pendek yang terbagi dalam tiga kategori: animasi dan non-animasi berdurasi maksimal 8 menit, serta film super pendek berdurasi maksimal 8 detik. Permintaannya pun tidak terlalu sulit.

“Kami memiliki tiga kriteria yaitu kesegaran, inovasi dan entertainment. Tidak harus semuanya, tapi yang penting hanya satu syarat saja. Kami berharap bisa merubah HelloFest menjadi batu loncatan bagi pembuat film muda Indonesia,” kata Wahyu tentang pendiri tersebut. dari HelloFest Aditya pada konferensi pers yang diadakan di Galeri Indonesia di Kaya, Grand Mall Indonesia, Jakarta (9 Januari 2016).

Salah satu “lulusan” HelloFest yang terjun ke dunia bisnis adalah Direktur Surat Angga Dwimas Sasongko dari Praha (2016) dan Surat (Firatofi Kopi) (2015). Sebelas tahun lalu, Angga merekam film pendeknya “Strangely Beautiful”, yang akan ditayangkan di HelloFest. Siapa sangka film itu sukses membawanya masuk ke dunia perfilman.

Angga menuturkan, industri film lokal saat ini memang sangat bergairah. Sutradara berusia 31 tahun itu menjelaskan: “Namun, jika tidak ada regenerasi, hal-hal ini tidak akan berlanjut.” Angga menegaskan bahwa mendukung film pendek seperti HelloFest dapat membantu regenerasi.

Kini, Angga akan menjadi sutradara film nasional dan terlibat dalam berbagai proyek komersial.

Unga berkata: “Sekarang, film pendek tidak hanya menjadi batu loncatan, melainkan juga memiliki nilai ekonomis, sehingga dapat meraup uang.”

Tentu saja, tidak semua pembuat film independen ingin membuat jejak mereka di lembah film arus utama seperti Angga dan Ifa. Ada kebalikan antara idealisme dan komersialisasi.

Ada sineas seperti Edwin (38 tahun) yang setia memproduksi film pendek dan meraih prestasi yang tak terhitung jumlahnya. Ini termasuk “Babi Buta Yang Ingin Terbang” dan “Kartu Pos dari Kebun Binatang”, yang memenangkan Penghargaan FIPRESCI di Festival Film Internasional Rotterdam 2009. Ini adalah film Indonesia pertama yang dinominasikan di Festival Film Beruang Emas Berlin 2012.

Baru-baru ini (10 Desember 2016), Edwin memenangkan Busan Award untuk film “Love and Revenge” dan hadiah sebesar 15.000 dolar AS (196 juta rupiah) di pasar proyek Asia pada tahun 2016.

Selain Edwin, ada juga produk generasi baru seperti Wregas Bhanuteja. Wregas Prenjak (Tahun Monyet) memenangkan Penghargaan Penemuan Film Leica dalam kategori Semaine de la Critique di Festival Film Cannes 2016 pada usia 23 tahun.

Sebelumnya, karyanya “Le Man Pass” memenangkan penghargaan di Festival Film Pendek ke-21. Wregas seolah membuktikan kebangkitan sineas muda Indonesia.

Internet Menjadi Sarana Perfilman

Jika orang tidak bisa melihat karya tertentu, itu akan sia-sia. Film independen tentunya tidak bisa ditayangkan di jaringan film komersial karena biasanya tidak sesuai dengan selera penonton biasa. Jenis film ini membutuhkan wadahnya sendiri.

Aktor Lukman Sardi mengatakan kepada Kompas (2/6/2016): “Nah bagi para penggemar film seperti ini, tentunya akan kesulitan menonton film seperti ini.

Menurut Lukman, meski beberapa jaringan film menggelar festival atau pemutaran film independen untuk komunitas tertentu, film jenis ini tetap membutuhkan tempat pemutaran khusus.

Pembuat film berpikir, ‘Saya ingin membuat film seni, film independen, tapi di mana saya ingin menayangkannya? Kata Lukeman. Jawabannya adalah Internet.

Dengan adanya layanan video streaming (streaming media) atau on-demand (video-on-demand), para pecinta film art dan indie dapat dengan leluasa menonton film-film tertentu tersebut.

Sebelum era internet, aktor independen bisa tampil melalui festival, program pameran acara komunitas, dan berbagai kine klub di seluruh kampus dan di mana-mana, misalnya Kineforum di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Kini, mereka bisa menggunakan berbagai platform Internet, seperti Kineria, Viddsee, Youtube, Vimeo, bahkan melalui aplikasi seperti Instagram.

Jika ditayangkan perdana di festival film, itu adalah nilai tambah dari sebuah film independen. Selain itu, festival tertentu mengharuskan film tersebut tidak pernah ditayangkan di media / tempat lain.

Namun tentunya tidak semua pelaku film independen memiliki kesempatan, apalagi mengikuti festival film internasional seperti Edwin dan Wregas Bhanuteja.

Fregas sendiri mengatakan bahwa dengan bantuan internet, masa depan sineas muda menjadi lebih cerah. Lulusan Institut Seni Jakarta (IKJ) ini mengatakan kepada Beritagar.id (27/5/2016), “Ini zaman informasi dan internet. Film unik langsung populer karena Internet.”

Terlepas dari medianya, bagi Wregas, ada dua faktor yang membuat film tersebut tampil baik.

Varegas berkata: “Jika Anda dapat membuat film dengan penuh semangat dan berhasil menarik perhatian orang, maka Anda akan dikenali.”

Artikel Film